|
TEMATIK
|
-Ketika kata maaf menjadi
sesuatu yang sangat berarti, apapun akan kita lakukan –
Berawal dari
kesalahan fatal yang pernah dilakukan Pak Badrun kepada sembilan orang
temannya pada empat puluh tahun lalu. Dan
kini, Budi, sang anak yang harus mencari maaf untuk Pak Badrun, ayahnya.
|
SINOPSIS
|
BUDI, seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Sudah menikah
dan dikaruniai seorang bayi yang lucu.
Suatu hari, Budi terkejut mendapat kabar PAK BADRUN, ayahnya yang
berusia enam puluh tahun tiba-tiba jatuh sakit. Budi dan ibunya segera
membawa sang ayah ke rumah sakit. Tapi keadaannya malah tambah parah.
Sehingga harus terbaring koma. Keduanya lantas meminta tolong teman akrab sang
ayah sejak masih remaja, Pak Rahmad.
Atas saran Pak Rahmad, Budi harus memintakan maaf sang ayah. Tak
tanggung-tanggung kepada sembilan orang teman ayahnya yang entah masih ingat
atau sudah meninggal. Kesembilan orang itu empat perempuan (BU RINA, BU
RANTI, BU RITA dan BU NISA) dan lima pria (PAK TORO, PAK HARYO, PAK ARMAN, PAK
RANDU dan PAK AHMAD) yang pernah disakiti hatinya oleh sang ayah. Mulai dari
sering mengingkari janji kepada teman, utangnya tak dibayar, pacarnya
direbut, bercanda yang kebablasan, dipermalukan di depan bos hingga memfitnah
teman untuk hal yang tak dilakukan.
Awalnya, Budi ragu dan tak percaya. Tapi pada suatu malam, Budi
bermimpi didatangi sang ayah memintanya untuk melakukan hal tersebut. Budi
lalu mengambil cuti dari tempat kerja. Meninggalkan istri dan sang bayi
kecilnya sementara waktu. Tak lupa, Pak Rahmad pun juga memberinya dukungan
moril dan bekal materiil.
Berbekal foto dan alamat kesembilan teman sang ayah, Budi segera
berangkat. Tujuan pertama Budi itu Pak Toro dan Bu Rina, dua orang teman sang
ayah yang rumahnya tak begitu jauh. Keduanya mau langsung memberi maaf. Dilanjut
menemui Bu Ranti dan Bu Rita yang beda satu kampung dengan Budi. Tapi
ternyata keduanya sudah meninggal, Budi pun tak bisa berbuat apa-apa.
Pencarian maaf dilanjutkan. Kali ini menemui Pak Haryo dan Pak Arman,
rumahnya beda kecamatan. Keduanya mau memaafkan asal diberikan uang. Awalnya,
Budi sempat bersitegang. Tak mau memberikan uang. Tapi akhirnya Budi mau
menuruti kemauan keduanya. Itu semua demi sang ayah.
Hingga pada akhirnya hanya tersisa tiga orang itu Bu Nisa, Pak Randu
dan Pak Ahmad. yang harus dimintakan maafnya. Tapi Budi dapat telepon
mendadak dari Pak Rahmad, ketiganya sudah pindah ke Bogor. Sementara cobaan
malah menimpa Budi. Dompet dan sepeda motornya dicuri. Bos tempat Budi
bekerja menginginkannya agar cepat kembali masuk kerja.
Dengan sisa uang dan foto yang masih bisa diselamatkan, Budi berjalan
kaki menuju Bogor. Lelah tak ia rasakan. Akhirnya, Budi bisa menemui Bu Nisa
Tapi ada syarat dari Bu Nisa, Budi harus menikahi anak perempuannya jika mau
mendapatkan maaf untuk sang ayah. Terang saja, Budi menolak halus. Bu Nisa
tak terima lalu menyuruh orang untuk memukuli Budi.
Budi yang sudah babak belur dilarikan warga ke rumah sakit. Di sana,
Budi malah bertemu Pak Randu yang sedang sekarat. Dengan menahan rasa sakit
dan perih, Budi memintakan maaf sang ayah. Untungnya sesaat sebelum malaikat
maut mencabut nyawa Pak Randu, ia memaafkan kesalahan ayah Budi.
Sekarang tinggal Pak Ahmad yang belum juga Budi. Lalu Budi mengamati
foto Pak Ahmad. Sepertinya ia kenal dekat jika wajah Pak Ahmad ada kumis dan
jambang. Budi tersadar Pak Ahmad dan Pak Rahmad itu mirip. Budi ingin segera
memastikannya tapi tak ada uang untuk pulang kembali ke rumah. Pertolongan
dari Allah SWT datang tepat waktu, Bu Nisa tiba-tiba menemuinya dan langsung
minta maaf karena takut akan dipenjara akibat menyuruh orang memukuli Budi.
Budi mau memaafkan. Tahu Budi sudah memaafkan, Bu Nisa juga memaafkan
kesalahan ayah Budi. Tak lupa, Budi diberi uang saku untuk pulang ke Jakarta.
Sampai di rumah, Budi langsung menemui Pak Rahmad. Tanyakan mengapa ia
mirip Pak Ahmad. Budi kaget ternyata Pak Antok itu saudara kembarnya Pak
Rahmad yang sudah meninggal bunuh diri setelah dipermalukan ayah Budi di
depan umum. Pak Rahmad sengaja menyembunyikan informasi ini karena ia belum
rela kehilangan sudara kembarnya hingga saat ini.
Budi sampai memohon-mohon, berlutut sambil menangis meminta agar Pak
Rahmad mau memaafkan kesalahan sang ayah pada saudara kembarannya. Melihat
kettulusan hati Budi, Pak Rahmad akhirnya mau memaafkan ayah Budi. Bersamaan
dengan itu, telepon rumah Budi bordering. Mengabarkan sang ayah
meninggal. Budi antara lega dan sedih.
Lega karena sang ayah kini bisa ‘pergi’ tanpa beban kesalahan masa lalunya.
Sedih karena Budi harus kehilangan seorang ayah yang sangat ia hormati dan
sayangi.
*Tayang pada 11 Desember 2015 di Trans 7 jam 09.00 WIB.
https://www.youtube.com/watch?v=srXdwSI-8mY
|