Monday, December 28, 2015

Cerpen 2014

Pulsa Nyawa
Oleh: Herumawan P A
            Kios pulsa di depan rumah tampak ramai. Si penjual tak tampak batang hidungnya. Seperti tenggelam di antara lautan ratusan pembelinya. Aku bertanya kepada seorang tetangga yang sedang menunggu antrian, “Ada apa gerangan? Mengapa sangat ramai?”
Katanya, kios pulsa ini menjual isi ulang nyawa.
“Nyawa?” Aku tercekat.
“Manusiakah? Tetanggaku mengangguk. Aku kian tercekat.
“Wow..” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
            “Bagaimana caranya?” Aku tertarik membelinya. Tetanggaku di sebelahku berdiri menggeleng.
“Mungkin seperti kita membeli pulsa biasa.” Sahut seorang tetanggaku yang lain, di dalam antrian. Aku tersenyum mendengarnya.
“Aku akan ikut mengantri.” Tekadku bulat. Aku masuk ke dalam antrian yang sudah mengular sangat panjang.
            Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Kini sudah bulan yang keenam, aku belum juga bisa bertemu si penjualnya. Antrian panjang itu seakan tak menemui muara. Aku masih tetap berada di tempat yang sama. Belum beranjak dari tempatku antri semula.
            “Mengapa tak juga beranjak?”
“Ada apa di depan sana?” Terbersit untuk menyerobot antrian. Tapi niat itu aku urungkan. Tampak di antrian bagian depan sana, banyak wajah-wajah sangar tak berbelas kasihan. Aku jeri melihatnya.
            Akhirnya, antrian yang mengular itu pun bergerak. Hanya sejengkal. Aku menghela nafas.
“Kapan aku bisa beli pulsa itu?” Aku mulai tak mau berharap banyak. Kulihat ke belakang, antrian semakin banyak. Sementara, antrian di depan belum juga tampak bergerak maju.
            Tiba-tiba, seorang lelaki tua mendatangiku.
“Ayo, ikut bersamaku.” Lelaki tua itu menarikku keluar dari antrian. Semua orang yang mengantri memandangiku. Tapi aku tak peduli. Aku terus saja melangkah mengikutinya.
            Lelaku tua itu mengantarkanku sampai ke depan kios pulsa. Aku tertegun melihat bentuk bangunannya. Belum sempat, aku berterima kasih, lelaki tua itu sudah pergi tak tahu kemana.
            Kini, aku di depan kios pula. Tampak seorang perempuan muda tersenyum kepadaku.
“Mau beli pulsa berapa, Mas?” Tanyanya. Aku terdiam sejenak.
“Isi pulsa dua puluh ribu.” Jawabku.
“Gak bisa, Mas.” Aku terkejut.
            “Bisanya isi ulang lima ribu saja.”
“Ya sudah, pulsa lima ribu empat kali.”
“Hanya satu kali.”
“Satu kali juga gak apa-apa.” Kataku kesal. Si perempuan penjualnya tersenyum. Lalu mengisikan pulsa. Entah kenapa, hatiku yang semula kesal kepadanya menjadi luwer.
Ketika aku hendak membayar pulsa, ia menampiknya.
“Kios pulsa ini tak melayani pembayaran uang tunai.” Jelasnya.
“Harus pakai kartu kredit ya?” Ia menggeleng.
“Lalu pakai apa?” Ia menunjuk ke arah dadaku.
“Pakai kebaikan hati.” Aku tak percaya mendengarnya.
“Benarkah hanya pakai kebaikan hati. Mengapa?” Tanyaku heran.
“Karena kini hanya sedikit yang mempunyai kebaikan hati. Selebihnya ego yang berkuasa.” Jawabnya. Aku mengangguk. Lalu berjalan meninggalkan kios pulsa itu. Pulang ke rumah.
Tiba di rumah, layar ponselku tampak bersinar. Tanda ada pesan masuk. Aku membuka dan membaca isinya.
“Selamat, nyawa anda telah diisi ulang dengan seri voucher khusus.”
Aku tak percaya membacanya. Lalu mematut diri di kaca cermin kamar.
“Apanya yang isi ulang nyawa? Tetap tak ada yang berubah.”
“Sama saja masih punya satu nyawa.”
            Aku merasa kios pulsa itu sudah membohongiku. Toh begitu, aku tak rugi sedikitpun. Malah untung tak perlu membayar pakai uang tunai.
            Seminggu berlalu. Pulsa ponselku masih tetap sama. Karena jarang aku gunakan sms, telepon maupun internetan.
            Ada pesan masuk di ponselku. Aku membukanya. Tercenggang, aku membacanya.
“Masa aktif nyawa anda habis. Segera lakukan pengisian ulang nyawa anda.”
“Benarkah ini?” Pikirku. Lalu aku mencoba untuk menelepon. Di ujung telepon, terdengar suara seorang perempuan mirip si penjual pulsa itu.
“Sisa nyawa anda tak cukup untuk melakukan panggilan ini. Segera lakukan pengisian ulang.”
            Aku bergegas ke kios penjual itu. Tapi yang kulihat, tampak sepi dan bangunannya tutup. Kucoba bertanya pada orang yang duduk-duduk di depan kiosnya.
“Kemana yang punya kios pulsanya? Kok tutup?”
“Kurang tahu, Mas. Mungkin baru pergi.”
“Ditunggu di sini saja.” Aku manggut-manggut. Lalu duduk di sebelahnya.
            Tak lama, perempuan penjual pulsa datang. Aku menghampirinya.
“Mau beli pulsanya?” Ia tersenyum.
“Maaf, Mas. Sudah tak jualan pulsa lagi.” Aku terkejut.
“Lha terus bagaimana isi pulsanya?”
“Kan sudah dibilangin bayar dan isinya sama-sama pakai kebaikan hati. Ini kan pulsa khusus.” Aku terdiam mendengar. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku.
            “Di kios lain kan masih bisa.” Kata orang di sebelahku.
“Tapi ini pulsanya khusus, beda dari yang lain.” Sahutku. Orang itu terdiam lalu pergi meninggalkanku sendiri di depan kios pulsa.
            “Kebaikan hati, apa maksudnya?” Aku bergumam sambil melihat ke sekelilingku. Sepintas, aku melihat botol kaca minuman energi tergeletak di tengah jalan. Lalu aku pungut dan membuangnya di tempat sampah.
            “Caranya tak sulit kan, Mas.” Perempuan penjual pulsa membuatku terkejut. Aku tersenyum. Ia lalu menunjuk ke ponsel yang aku bawa.
“Pulsanya sudah masuk.” Aku lalu membukanya. Benar saja, ada tulisan yang sama seperti pertama membeli pulsanya.
            Tapi sejak saat itu, aku tak lagi melihat perempuan penjual pulsa dan kiosnya itu. Mungkin sudah pindah ke tempat lain. Ke tempat manusia-manusia yang tak punya kebaikan hati dan menjual pulsa nyawa di sana.
*Dimuat di Kedaulatan Rakyat, tanggal 15 Juni 2014.