Pulsa Nyawa
Oleh:
Herumawan P A
Kios pulsa di depan rumah tampak
ramai. Si penjual tak tampak batang hidungnya. Seperti tenggelam di antara
lautan ratusan pembelinya. Aku bertanya kepada seorang tetangga yang sedang
menunggu antrian, “Ada apa gerangan? Mengapa sangat ramai?”
Katanya,
kios pulsa ini menjual isi ulang nyawa.
“Nyawa?”
Aku tercekat.
“Manusiakah?
Tetanggaku mengangguk. Aku kian tercekat.
“Wow..”
Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Bagaimana caranya?” Aku tertarik
membelinya. Tetanggaku di sebelahku berdiri menggeleng.
“Mungkin
seperti kita membeli pulsa biasa.” Sahut seorang tetanggaku yang lain, di dalam
antrian. Aku tersenyum mendengarnya.
“Aku
akan ikut mengantri.” Tekadku bulat. Aku masuk ke dalam antrian yang sudah
mengular sangat panjang.
Hari berganti hari. Bulan berganti
bulan. Kini sudah bulan yang keenam, aku belum juga bisa bertemu si penjualnya.
Antrian panjang itu seakan tak menemui muara. Aku masih tetap berada di tempat
yang sama. Belum beranjak dari tempatku antri semula.
“Mengapa tak juga beranjak?”
“Ada
apa di depan sana?” Terbersit untuk menyerobot antrian. Tapi niat itu aku
urungkan. Tampak di antrian bagian depan sana, banyak wajah-wajah sangar tak
berbelas kasihan. Aku jeri melihatnya.
Akhirnya, antrian yang mengular itu
pun bergerak. Hanya sejengkal. Aku menghela nafas.
“Kapan
aku bisa beli pulsa itu?” Aku mulai tak mau berharap banyak. Kulihat ke
belakang, antrian semakin banyak. Sementara, antrian di depan belum juga tampak
bergerak maju.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua
mendatangiku.
“Ayo,
ikut bersamaku.” Lelaki tua itu menarikku keluar dari antrian. Semua orang yang
mengantri memandangiku. Tapi aku tak peduli. Aku terus saja melangkah
mengikutinya.
Lelaku tua itu mengantarkanku sampai
ke depan kios pulsa. Aku tertegun melihat bentuk bangunannya. Belum sempat, aku
berterima kasih, lelaki tua itu sudah pergi tak tahu kemana.
Kini, aku di depan kios pula. Tampak
seorang perempuan muda tersenyum kepadaku.
“Mau
beli pulsa berapa, Mas?” Tanyanya. Aku terdiam sejenak.
“Isi
pulsa dua puluh ribu.” Jawabku.
“Gak
bisa, Mas.” Aku terkejut.
“Bisanya isi ulang lima ribu saja.”
“Ya
sudah, pulsa lima ribu empat kali.”
“Hanya
satu kali.”
“Satu
kali juga gak apa-apa.” Kataku kesal. Si perempuan penjualnya tersenyum. Lalu
mengisikan pulsa. Entah kenapa, hatiku yang semula kesal kepadanya menjadi
luwer.
Ketika
aku hendak membayar pulsa, ia menampiknya.
“Kios
pulsa ini tak melayani pembayaran uang tunai.” Jelasnya.
“Harus
pakai kartu kredit ya?” Ia menggeleng.
“Lalu
pakai apa?” Ia menunjuk ke arah dadaku.
“Pakai
kebaikan hati.” Aku tak percaya mendengarnya.
“Benarkah
hanya pakai kebaikan hati. Mengapa?” Tanyaku heran.
“Karena
kini hanya sedikit yang mempunyai kebaikan hati. Selebihnya ego yang berkuasa.”
Jawabnya. Aku mengangguk. Lalu berjalan meninggalkan kios pulsa itu. Pulang ke
rumah.
Tiba
di rumah, layar ponselku tampak bersinar. Tanda ada pesan masuk. Aku membuka
dan membaca isinya.
“Selamat,
nyawa anda telah diisi ulang dengan seri voucher khusus.”
Aku
tak percaya membacanya. Lalu mematut diri di kaca cermin kamar.
“Apanya
yang isi ulang nyawa? Tetap tak ada yang berubah.”
“Sama
saja masih punya satu nyawa.”
Aku merasa kios pulsa itu sudah
membohongiku. Toh begitu, aku tak rugi sedikitpun. Malah untung tak perlu
membayar pakai uang tunai.
Seminggu berlalu. Pulsa ponselku
masih tetap sama. Karena jarang aku gunakan sms, telepon maupun internetan.
Ada pesan masuk di ponselku. Aku membukanya.
Tercenggang, aku membacanya.
“Masa
aktif nyawa anda habis. Segera lakukan pengisian ulang nyawa anda.”
“Benarkah
ini?” Pikirku. Lalu aku mencoba untuk menelepon. Di ujung telepon, terdengar
suara seorang perempuan mirip si penjual pulsa itu.
“Sisa
nyawa anda tak cukup untuk melakukan panggilan ini. Segera lakukan pengisian
ulang.”
Aku bergegas ke kios penjual itu.
Tapi yang kulihat, tampak sepi dan bangunannya tutup. Kucoba bertanya pada
orang yang duduk-duduk di depan kiosnya.
“Kemana
yang punya kios pulsanya? Kok tutup?”
“Kurang
tahu, Mas. Mungkin baru pergi.”
“Ditunggu
di sini saja.” Aku manggut-manggut. Lalu duduk di sebelahnya.
Tak lama, perempuan penjual pulsa
datang. Aku menghampirinya.
“Mau
beli pulsanya?” Ia tersenyum.
“Maaf,
Mas. Sudah tak jualan pulsa lagi.” Aku terkejut.
“Lha
terus bagaimana isi pulsanya?”
“Kan
sudah dibilangin bayar dan isinya sama-sama pakai kebaikan hati. Ini kan pulsa
khusus.” Aku terdiam mendengar. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari
mulutku.
“Di kios lain kan masih bisa.” Kata
orang di sebelahku.
“Tapi
ini pulsanya khusus, beda dari yang lain.” Sahutku. Orang itu terdiam lalu
pergi meninggalkanku sendiri di depan kios pulsa.
“Kebaikan hati, apa maksudnya?” Aku
bergumam sambil melihat ke sekelilingku. Sepintas, aku melihat botol kaca
minuman energi tergeletak di tengah jalan. Lalu aku pungut dan membuangnya di
tempat sampah.
“Caranya tak sulit kan, Mas.”
Perempuan penjual pulsa membuatku terkejut. Aku tersenyum. Ia lalu menunjuk ke
ponsel yang aku bawa.
“Pulsanya
sudah masuk.” Aku lalu membukanya. Benar saja, ada tulisan yang sama seperti
pertama membeli pulsanya.
Tapi sejak saat itu, aku tak lagi
melihat perempuan penjual pulsa dan kiosnya itu. Mungkin sudah pindah ke tempat
lain. Ke tempat manusia-manusia yang tak punya kebaikan hati dan menjual pulsa
nyawa di sana.
*Dimuat di Kedaulatan Rakyat,
tanggal 15 Juni 2014.

No comments:
Post a Comment